Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • jarakada 5:58 pm on 09/02/2016 Permalink | Reply  

    Arabika Dolok Sanggul 

    image

    Dolok Sanggul, Kalita, Semenjana

    Yang menarik dari nama kopi ini adalah kata Sanggul, hiasan rambut wanita khas Nusantara dan Dolok yang berarti gunung. Karena unik, saya akhirnya mencari informasi kopi ini dinamakan seperti itu.

    Konon pada suatu ketika, sekelompok masyarakat Dolok Nabolon, kecamatan Pollung menghadiri undangan pesta Ulaon yang mengharuskan mereka melewati wilayah Dolok Sanggul. Perjalanannya sendiri memakan waktu seharian. Tiba di Dolok Sanggul mereka menyempatkan beristirahat, saat berkemas tanpa sengaja para wanita tertinggal perlengkapan sanggulnya. Saat perjalanan pulang, mereka menyempatkan mengambil Sanggul yang tertinggal. Terpesona akan keindahan alamnya, akhirnya mereka menyebut kata Sanggul sebagai pengingat. Sejak saat itu, daerah tersebut dikenal dengan nama Dolok Sanggul.

    Dolok Sanggul sendiri merupakan bagian dari dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Utara diketinggian 1.400 – 1.600 mdpl. Dolok Sanggul juga dikenal sebagai nama kecamatan sekaligus nama ibukota kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Mayoritas penduduknya adalah suku Batak hidup dengan bertani dan berkebun kopi jenis Arabika. Kopi dari daerah ini kemudian dikenal dengan nama kopi Dolok Sanggul.

    Pada kunjungan ke rumah seduh Semenjana semalam, pilihan saya jatuh pada kopi ini. Diroasting oleh Morph dengan motode giling basah tertanggal 12 Januari kemarin. Dengan metode seduh Kalita didapat aroma manis gula aren dan kesan cokelat hitam pada rasa yang tertinggal. Saya tidak menemui rasa asam strawberry seperti yang tertera pada tasting note. Maklum, kebiasaan minum haus membuat saya menegak habis cangkir kopi sebelum mendingin dan mengeluarkan cita rasa asamnya. Untuk kepekatan, medium to high body merupakan rentang skala yang saya sukai.

     
  • jarakada 8:17 am on 05/02/2016 Permalink | Reply  

    Kopi Pinogu 

    image

    Di sela-sela acara fun brewing komunitas kopi Samarinda di tepian sungai Karang Mumus tempo hari, saya dibisiki oleh om Yus: “Senin lusa ada tester kopi Liberica, om Timpa yang bawa. Kita coba seduh, penasaran bagaimana rasanya”. Om Yus juga menyebut nama Pinogu yang kemudian diketahui sebagai kopi blend antara Robusta dan Liberica.

    Fun brewing ini acara ngopi, nyaris semua kopi geek sekota Tepian ngumpul di sini ngopi sambil ngobrol soal lingkungan. Kesempatan buat mencari tau dan bertanya soal kopi Liberica langsung dari ahlinya.

    Kebetulan ada mas Kris dari Republikcoffee, si begawan kopi memberi sedikit info dari perspektifnya tentang kopi ini. Menurutnya Liberica kerap disebut kopi Nangka, cenderung fruity. Umumnya diroasting light sampai medium. Dengan alasan pengiritan, Liberica kerap dicampur Robusta sebagai bahan dasar kopi instant oleh industri skala besar.

    Referensi lain menyebut Liberica memiliki ukuran biji kopi lebih besar dari ke dua saudaranya Robusta dan Arabika. Sedikit lebih ringan rasa asamnya dari Robusta dan jumlah varian rasa di bawah jenis Arabika. Kelebihannya tahan hama dan bisa tumbuh subur di ketinggian kurang dari 700 mdpl.

    Untuk testing note saya mengutip Lisa Virgiano, seorang pemerhati kuliner Nusantara yang dimuat laman deGorontalo:

    “Saya menemukan kopi Pinogu datang dengan medium high body dan kadar asam yang sedang, dengan aroma buah-buahan tropis dan jejak ujung rasa rempah (spicy) kering dan coklat,”

    “Yang menarik ketika kopi diminum dalam keadaan turun temperaturnya, aroma kuat nangka keluar, hal ini tidak heran karena kopi Pinogu saya dengar merupakan persilangan dengan kopi liberica (kopi nangka),”

    kopi Pinogu akan dapat ditonjolkan aroma dan dikurangi bodynya bila dilakukan manual brewing dengan V60, Chemex, atau Aeropress. Atau diminum dengan susu (kopi tubruk susu), krim kacang/coklat, atau perasan jeruk lemon dan soda.

    Dengan bekal informasi ini, hal selanjutnya yang dilakukan adalah menunggu kopi yang dijanjikan datang.

    Sesuai kesepakatan, Rumah Seduh Semenjana dipilih sebagai tempat untuk menjajal rasa kopi ini. Pilihan model seduh di sana lebih lengkap, mulai dari tubruk, kalita hingga chemex. Walau jadwal sempat mundur karena Senin mereka libur, akhirnya Selasa baru kesampaian.

    Sesuai ekspektasi kopi Liberica yang ditunggu akhirnya mendarat di Semenjana. Melihat sortasi biji kopi yang tidak konsisten, ada yang kecil dan besar, bisa dipastikan ini kopi Pinogu yang disebut om Yus kemarin; campuran antara liberica dan Robusta. Diroasting medium dan sesuai rekomendasi tukang seduh untuk menggunakan metode chemex. Kebetulan om Timpa membawa sisa hasil brewing sebelumnya yang diseduh secara aeropress dan moka pot sebagai pembanding nantinya.

    Cita rasa kopi Pinogu hasil seduhan malam itu bisa dibilang simpel, rasanya datar. Hal menarik dari kopi ini adalah aroma tepung trigu pada metode seduh moka pot. Sedangkan hasil seduh chemex menampilkan rasa masam dan kelat yang datar. Belum bisa dipastikan, rasa datar ini karena proses roasting yang gagal atau memang karakter kopi Pinogu yang sebenarnya.

    Agak susah menarik kesimpulan mengenai hasil tester kopi Pinogu malam itu. Ekspektasinya kopi Liberica, ternyata kopi blend dengan Robusta. Cerita tentang cita-rasa kopi nangka yang fruity sepertinya mesti menunggu tester single origin Liberica yang sesungguhnya.

    Yang menarik, catatan wikipedia tentang kopi Pinogu yang merupakan produk unggulan kecamatan Pinogu, kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Kopi ini dianggap sebagai kopi organik bebas dari penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya. Ditanam sejak era kolonial Belanda tahun 1875 dan menjadi kopi favorit Ratu Wilhelmina pada masanya. Selain itu, sebagai bentuk promosi, otoritas setempat menunjuk Dahlan Iskan (mantan menteri BUMN) sebagai duta kopi Pinogu.

     
  • jarakada 1:57 pm on 03/02/2016 Permalink | Reply  

    Toraja Rantemario 

    image

    Rantemario sendiri merupakan nama salah satu puncak tertinggi (3478 mdpl) dari tujuh puncak pegunungan Latimojong yang dijuluki sebagai atap pulau Sulawesi. Akses menuju puncak Rantemario umumnya melalui rute Makassar – Enrekang – Barakka – kemudian desa Kalimbua di kaki gunung Latimojong.

    Entah kenapa kopi ini disebut Toraja Rantemario, bukannya Enrekang. Mungkin biji kopinya berasal dari kebun-kebun kopi di kaki gunung Latimojong yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Tana Toraja.  Sebagian lainnya menyebut kopi arabica yang berasal dari kawasan Rantelemo, Luwu dan Rantemario dengan sebutan kopi gunung. Selain penghasil kopi, wilayah kaki gunung Latimojong dikenal sebagai penghasil buah Salak dan beragam jenis sayuran.

    Kopi Toraja Rantemario yang saya cicipi semalam diroasting light, diseduh Kalita oleh toean Semenjana. Untuk testing note, sedikit rasa asam lebih ke fruity dan kelat pahit buah Salak. Yang menonjol adalah body kopi yang pekat, sesuai dengan selera kopi hitam favorit saya.

     
  • jarakada 9:13 am on 28/01/2016 Permalink | Reply  

    Investasi Terbaik? 

    image

    Di sebuah bincang kopi seorang kawan menunjukkan proposal investasi kemudian menanyakan apakah model investasi seperti itu bagus atau tidak?

    Saya bukan pengamat investasi atau seorang konsultan keuangan. Hal yang pertama terlintas saat mendengar ajakan investasi adalah kata: do with your own risk. Soal bagus atau tidak dan menguntungkan itu relatif.

    Merasa tidak puas, pertanyaan berlanjut: ada rekomendasi model investasi apa yang dipilih?

    Saya kurang menyukai jawaban hitam-putih, saya menyukai retorika. Investasi merupakan transaksi berdasar pada kepercayaan. Percaya bahwa usaha orang lain lebih menjanjikan dan mungkin kelak memberi keuntungan. Logika perhitungan dan sistemnya jelas meyakinkan. Namun logika psikologisnya menyisakan pertanyaan. Kenapa yakin dengan usaha orang lain. Bila mempunyai kemampuan atau keahlian, kenapa tidak yakin dengan diri sendiri?

    Bisa berikan contohnya?

    Spontan saya menunjuk sang Toean pemilik rumah seduh kopi. Ia menginvestasikan waktu, tenaga, biaya, perhatian dan cinta pada kopi yang menjadi kesukaannya. Sekarang ia memiliki rumah seduh kopi yang memberikannya banyak teman, sahabat, relasi, pengalaman, respek, penghasilan sampingan dan mungkin saja sebuah rumah yang selama ini diimpikan. Tidak ada syarat besaran biaya yang mesti disetorkan di awal investasi, tidak ada beban pikiran kelak akan untung atau malah merugi.

    Satu contoh lagi. Seorang teman menjual motor kesayangan kemudian membeli sebuah kamera profesional dan beberapa asesoris tambahan. Penampilannya kini bak fotografer kawakan. Bermodal hasil foto pas-pasan, ia berani menggaet beberapa wanita cantik yang dikenalnya lewat media sosial sebagai model. Padahal sebelumnya, bergaul dengan wanita saja susah, apalagi yang cantik. Ironisnya, ia jadian dengan salah seorang model gegara keseringan nebeng boncengan saat ke lokasi pemotretan. Berkat investasinya, sekarang ia punya studio foto sendiri, pacar cantik sepaket dengan sepeda motor tanpa harus keluar uang untuk membelinya.

    Saat ditanya apakah mereka menghitung resiko untung rugi saat memulai berinvestasi pada usaha sendiri? Jawabannya kompak, tidak. Dan lucunya logika investasi yang mereka lakukan terkesan aneh namun entah bagaimana bisa menguntungkan.

    Pertanyaan terakhir: perlu waktu berapa lama menjalankan model investasi pada usaha sendiri sampai bisa menghasilkan sesuatu?

    Dr. K. Anders Ericsson, seorang psikolog asal Swedia menyebutnya “aturan 10.000 jam”. Dibutuhkan paling tidak 10.000 jam latihan yang fokus dan konsisten. Bila dikonversi, latihan empat jam per hari, tujuh hari dalam seminggu, atau sama dengan waktu tujuh tahun latihan terus menerus bila ingin menguasai sebuah keahlian khusus. Henri Cartier Bresson menghabiskan 10.000 kali jepretan, sampai kemudian ia dikenal sebagai penemu genre Decisive Moment di bidang fotografi. Entah sudah berapa ribu cangkir kopi yang sudah diseduh Toean pemilik rumah seduh, atau sudah berapa ribu kali jepretan yang sudah dilewati sang fotografer secara Tulus sehingga mereka berada pada posisi seperti sekarang.

    Untuk menegaskan teori 10.000 jam di atas, pengalaman pribadi saya mungkin bisa jadi contoh. Saya kerap melewati ribuan jam untuk berbohong. Bukan sekedar latihan, bohongannya beneran. Tidak cuma empat jam per hari, terkadang bisa seharian, berlangsung tahunan hingga sekarang. Lama kelamaan saya kemudian dikenal sebagai pakar berbohong. Pertanyaannya bagaimana keahlian tersebut bisa menghasilkan. Sayang, pilihan profesi menghasilkan uang dengan cara berbohong tidak banyak dan sesuai dengan cita-cita. Sewaktu kecil saya pengen jadi pilot bukan politikus. Akhirnya saya membatalkan berinvestasi pada usaha berdasar keahlian tersebut. Bukannya tidak yakin dengan usaha sendiri, tapi sebaik-baiknya investasi adalah investasi pada kebaikan. Paling tidak, teori 10.000 jam terbukti berhasil pada saya dan mungkin pada orang lain juga.

    Kesimpulannya, investasi pada usaha sendiri melatih kita percaya diri dan bersabar. Maklum, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Bentuk investasi bisa berupa apa saja karena kita sendiri yang menjalankan sekaligus investornya. Mungkin investasi yang bagus digambarkan dalam ungkapan berikut:

    Layaknya angin yang ikut menebar bibit tetumbuhan tanpa pernah memilih-milih dan bertanya kapan ia bertunas dan menghasilkan. Ia hanya tau satu hal, kecintaannya untuk selalu bertiup merupakan sebuah kebaikan.

    Dan sebaik-baiknya investasi adalah investasi dalam kebaikan.

     
  • jarakada 9:03 am on 21/01/2016 Permalink | Reply  

    PKS – Petani Kopi Sejahtera 

    Penggunaan substansi kopi secara literal (arti yang sesungguhnya) di ranah politik tanah air jarang ditemui berbanding secara majas. Contohnya: obrolan seputar politik kerap menjadi stigma obrolan warung kopi walau kejadiannya di tempat lain. Entah kenapa akhirnya substansi kopi melekat sebatas majas dan bukan arti yang sesungguhnya.

    Kemudian beberapa waktu lalu saya membaca sebuah tulisan di media sosial yang menyebut substansi kopi secara literal di ranah politik tanah air.

    Saya juga tidak tahu, kenapa mendengar nama PKS seperti menyeruput secangkir kopi tanpa gula ? Pahit di lidah dan membuat mata terjaga waspada.

    Denny Siregar

    Bukan permasalahan politiknya yang membuat saya tertarik, namun penggunaan substansi kopi di ranah politik yang menjadi perhatian saya.

    Drama politik merupakan media darling, sarana instan popularitas baik kepada objek maupun subjek penyertanya. Kemudian apakah substansi kopi menjadi lebih populer setelah dicatut namanya? Atau malah sebaliknya.

    Seandainya penyertaan substansi kopi ikut mendongkrak popularitas, diiringi euforia seruput kopi agar melek politik, tentu para pegiat kopi termasuk industri hulu-hilir terutama petani kopi bisa lebih sejahtera. Bisa jadi majas hiperbola kutipan di atas: PKS laksana kopi pahit yang bikin melek akan berubah menjadi PKS – Petani Kopi Sejahtera.

    Sayang realita sesungguhnya, kopi tanpa politikpun sudah populer. Petani, pegiat kopi dan seterusnya bakal tetap hidup tanpa harus berpolitik. Namun tidak disangkal bahwa berpolitik dapat membuat para pegiat kopi sejahtera. Dan akronim berikut tidak akan terkesan lucu saat dibaca: PKS – Petani Kopi Sejahtera.

    Quote Denny Siregar bisa diakses di sini:
    https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=201792186836400&id=100010168603095

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel
%d bloggers like this: