Ninja Turtles VS Pedagang Telur Penyu

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Michael Angelo, Raphael, Donatello dan Leonardo para “Ninja turtle’s” jika melihat foto ini?  Seandainya gerombolan tokoh kartun ini nyata, mereka akan bilang ” Hei Dud, itu telur sepupu kami, kenapa dijual dan dikonsumsi! di mana ini, siapa yang mengambil dan menjualnya, untuk apa?”

Pedagang Telur Penyu Hijau

Donatello dan kawan-kawan mungkin tidak mengenal kota Samarinda dan tidak seorangpun yang akan percaya kota ini punya pantai dan laut dimana penyu bisa mendarat dan bertelur.  Namun anehnya disini mudah sekali menemukan para penjual telur penyu untuk dikonsumsi.  Silahkan berkunjung ke Jl. RE. Martadinata, Teluk Lerong – setidaknya ada sekitar lima-enam pedagang telur penyu yang biasa mangkal.  Entah sejak kapan telur penyu mulai diperdagangkan, namun ada beberapa pedagang mengaku telah menjual telur penyu selama puluhan tahun bahkan ada yang melanjutkan usaha tersebut dari orang tua mereka.

Karena penasaran saya sempat bertanya tentang pelestarian penyu pada salah satu penjual telur, “dari dulu stock telur penyu yang di drop ke saya tidak pernah kurang, apa benar jumlahnya berkurang?”jawabnya singkat.  Dari ke enam pedagang yang mangkal dikawasan ini tidak satupun dari mereka mengetahui dari jenis penyu dan berasal dari pulau mana telur yang mereka jual.  Kuat dugaan mereka juga tidak mengetahui isu pelestarian terkait keberadaan populasi spesies penyu yang jumlahnya semakin tahun semakin memprihatinkan.

Sebenarnya malas membahas kampanye pelestarian penyu, entah hal ini menjadi tanggung jawab siapa? yang pasti status semua jenis spesies penyu laut sudah masuk katagori “endangered spesies” dan anehnya otoritas kota membiarkan hal ini berlanjut dengan mengakomodasi perdagangan produk penyu laut beserta derivatnya. Membahas kembali puluhan kebijakan dalam bentuk Perda, ketetapan Pemerintah dan ratusan hasil seminar, diskusi tentang kampanye pelestarian penyu laut hanya akan membuang-buang waktu – tokh fakta dilapangan sampai dengan sekarang “eksploitasi” masih berlanjut.

Rasanya pesimis berharap banyak pada kampanye yang digadang pemerintah beserta para stake holder lainnya.  Dari pada membuang banyak waktu dengan berwacana dan menggantungkan harapan bahwa akan ada tindakan nyata – buah dari “legal opinion” dalam bentuk draft-draft panjang Perda serta brosur konservasi yang membuai.  Mendingan kita berkoar sedikit radikal dengan mengkampanyekan seruan ‘Jangan Beli Produk Penyu’.  Kunci distribusi produk ini berujung pada konsumen, individu-individu yang masih bisa dipengaruhi dengan self awareness akan pentingnya menjaga kelestarian penyu laut dengan tidak membeli dan mengkonsumsi produk yang berasal dari penyu laut.  Tokh jika tidak ada yang berminat membeli, siapa yang akan berani menjualnya – demand & suply theory.

Seandainya para Ninja Turtles ini tokoh nyata entah apa yang akan mereka lakukan jika mengetahui hal ini,  menghajar para pengumpul dan penjual telur barangkali.

FYI :

Advertisements