Samarinda Retropolis – Dugem!

Tidak banyak dokumentasi mengenai tempat hiburan malam dan trend style di Samarinda era tahun 60-70an.  Kita hanya mendengar kalau Pinang Babaris populer di era 60an, THG (taman Hiburan Gelora) merupakan kawasan perbelanjaan sekaligus taman hiburan kota di era 70-80an.  Kemudian ada Citra Niaga yang konon merupakan pusat perbelanjaan dengan konsep arsitektur merakyat yang mendunia populer di era 90an.

Sangat sedikit informasi mengenai pusat keramaian era sebelum Citra Niaga yang didirikan sejak tahun 1987, baik itu dokumentasi berupa artikel, photo maupun buku.  Kita hanya mengetahui dari cerita bahwa pusat-pusat keramaian tersebut identik dengan pasar, komplek pertokoan dan pasar kaget/malam.

Sengaja saya mengambil judul Dugem dalam subjek ini sesuai dengan definisinya tentang keramaian serta aktivitas hiburan di malam hari — pusat-pusat keramaian pada umumnya dimulai begitu malam menjelang.  Ruang publik merupakan present informations dan selalu update pada masanya.  Semua atribut sosial tumplek disini, detil semacam busana, gaya potongan rambut hingga jenis kendaraan yang digunakan merupakan standar informasi kondisi sosial pada saat itu.

Tidak banyak yang bisa saya bagi, namun beberapa photo dibawah ini mungkin bisa memberikan sedikit gambaran kehidupan malam kota Samarinda era tahun 60-70an.

Style busana dan kendaraan tahun 1963

Style & atitute.  Entah mengapa merk “benhur” pada pakaian begitu populer dikalangan anak muda era 60an, satu-satunya trend setter yang merujuk pada brand ini adalah film dengan judul yang sama.  Lucunya film yang mengambil setting masa romawi ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kaos polo berkerah berbahan polyester.  Namun tiba-tiba saja brand ini menjadi trend.  Oh ya, kebiasaan menggunakan spion tunggal disebalah kanan pada kendaraan roda dua ternyata memang populer sejak dulu.

Adu ketangkasan, lokasi Pinang Babaris th 1967

the Carnaval.  Di deretan komplek perbelanjaan Piang babaris terdapat beberapa stand yang menghadirkan permainan ketangkasan dengan berbagai macam hadiah.  Sayang photo di atas tidak begitu menunjukkan detail yang cukup lengkap selain jenis permainan dan hadiah.  Ada sabun batang merk Sunlight, susu kaleng dan berbagai jenis rokok.  Ada banyak stand permainan ketangkasan disekitar kawasan ini mulai dari permainan lempar bola,  catur tiga langkah hingga tebak kartu dan dadu yang sedikit menjurus pada judi.

Lounge, live music performance

Zona pub & cafe, Dlux dan semacamnya mungkin tidak asing di telinga warga Samarinda generasi sekarang.  Tapi apa ada yang mengenal Warung Bandrek Badjiegoer? — populer di era 70an menempati lantai II salah satu cluster komplek pertokoan Pinang babaris eks gudang Semoga Jaya Samarinda.  Jangankan anda, saya juga baru mengetahui kalau live music performance dengan nama jadul seperti itu dan eksis pada masanya.  Jangan berharap ada suguhan hingar bingar house music dengan DJ aktraktif mixing, yang ada malah sekumpulan pemain orkes melayu membawakan lagu-lagu melayu dan pop 70an.  Jadul plus norak? eits… jangan salah, this is the coolest music live performance in town at the time!  Ask your granpa for sure.

Missing in Action.  Ya!  Ada beberapa placemark venue dugem yang tidak kalah populer dimasanya seperti; Mahakamah theater (Pelabuhan Pasar Pagi) dan Misbar Garuda Theater (sekarang Hotel Senyiur) yang bisa dikategorikan sebagai pusat keramaian pada malam hari, sayangnya saya tidak memiliki satupun dokumentasi dan cerita mengenai tempat tersebut.  Mungkin ada yan bisa menambahkannya disini 🙂

Advertisements