Bisakah Pria dan Wanita Hanya Sekedar Berteman ?

Pertanyaan klasik namun menggelitik. Sayang jawaban yang paling sering kita dapat selalu membias ke arah etik moral tertentu, jarang ada yg menjawab dari sisi manusianya secara universal.

Sebelum membahasnya mari kita tetapkan definisi konsepsional hubungan pria-wanita yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini. Objeknya adalah para Pria-Wanita dewasa baik secara fisik dan mental, lahir bathin. Hubungan ini biasanya terjalin karena interakasi sosial seperti teman sekantor, seprofesi, teman kuliah bahkan orang-orang yang saling bertemu di ruang publik yang kemudian secara intens berhubungan walau dengan batasan-batasan tertentu.

Banyak definisi tentang teman, ada yang mengatakan “teman adalah seseoarang yang mau berbagi dengan anda”, yang lain berpendapat “teman adalah orang yang anda percaya dalam hal tertentu” dan pendapat saya “teman adalah orang yang dikenal dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan kita”. Apapun definisinya satu hal yang pasti, ada potensi kedekatan antara satu sama lain dalam ikatan yang didasari pada kebutuhan tertentu. Dalam kata lain manusia adalah makhluk sosial, mereka perlu berinterkasi dan salah satunya adalah dengan berteman.

Dalam berteman kita melakukan interaksi baik secara emosi, fisik dan persepsi. Banyak yang tidak menyadari dalam memilih teman kita terjebak standar yang terbentuk secara naluri. Kaya, cantik, tampan, rupawan dan unsur empati merupakan hal umum yang manjadi alasan mengapa kita berteman dengan orang lain. Persepsi-persepsi tersebut tidak akan berlanjut kearah yang lebih jauh dalam konteks pertemanan yang dibangun apabila teman yang kita pilih adalah sejenis, pria berteman dengan pria, wanita beteman dengan wanita. Bagaimana halnya berteman dengan selain jenis, opposite sex, antara pria dan wanita?

Manusia adalah makhluk sosial, yang secara naluri berinteraksi dengan dunia luar berdasar pada kepentingan pribadi. Sudah umum para pria berteman dengan sesama dari jenis mereka dalam konsep yang sedikit luas ketimbang persepsi mereka terhadap teman wanita. Begitu juga wanita, ada beberapa aspek yang membias tentang konsep teman dalam perspektif mereka. Pada prinsipnya ketertarikan pria terhadap sesuatu cenderung physical attractive, mereka berpikir dan menentukan selera secara visual termasuk pendapat mereka tentang teman wanitanya. Sedangkan wanita cenderung pasif merespon apa yang datang kepada mereka. Kalau pada akhirnya pria menentukan siapa teman dekat mereka berpatokan pada kondisi fisik, tentu para wanita juga akan berpendapat yang sama. Poinnya, sampai mana hubungan pertemanan ini akan berlanjut.

Mungkin terdengar kasar bila dikatakan pada dasarnya kita berprilaku primitif, termasuk kecendrungan kita dalam berteman. Tujuan utamanya adalah eksistensi dan bertahan hidup kemudian secara naluri diterjemahkan dengan ketertarikan pada lawan jenis. Secara sadar kita mengartikan ketertarikan ini adalah hal yang normal, namun lebih kompleks lagi prilaku ini merupakan solusi untuk tetap eksis. Umur manusia terbatas dan berkembang biak adalah jawabannya.

Berdasar pada konsep di atas pertanyaan bisakah pria dan wanita hanya sekedar berteman, saya menjawabnya tidak. Dalam kondisi tertentu, kita tidak dapat mengontrol batasan-batasan yang ada. Tidak peduli apakah teman wanita kita sudah ada “monyetnya”, istri orang, atau status kita yang sudah terikat, potensi kearah lebih dari sekedar teman terbuka lebar. Term kontemporer seperti Teman Tapi Mesra dan One Night Stand (Cinta Satu Malam) terdengar seperti lelucon namun efektif membuktikan bahwa nilai pertemanan pria-wanita bermakna luas.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat menyangkal mengagumi atau merasakan empati terhadap sesama teman atau kenalan. Batasan-batasan yang ada mungkin efektif mencegah kita untuk tidak lebih jauh mengekplorasi perasaan tersebut. Namun dinamika budaya pergaulan dan komunikasi di era modern seperti sekarang ikut menciptakan ruang di mana kesempatan untuk lebih dekat dengan seseorang sangat mungkin untuk dilakukan. Tidak perlu saya sebutkan satu persatu contohnya, media komunikasi seperti telpon, sosial network lewat internet dan sebagainya merupakan wahana yang sangat mengakomodasi hal tersebut.

Bagi pria-wanita single, ekspansi arti pertemanan kearah lebih jauh bukanlah suatu masalah sehingga jarang menjadi bahan perhatian. Beda dengan pria-wanita yang sudah mempunyai status dan komitmen. Ini dilema dan sindrom yang umum di era pergaulan post-modern seperti sekarang, pertemanan model ini rawan kontaminasi. Godaan yang muncul lebih besar dibanding kesadaran dan tidak berimbang. Kerap sepasang teman atau sahabat yang berbeda jenis merasa nyaman dengan kondisi ini, perasaan manusia sangat abstrak namun spesifik dihasil akhirnya. Ikatan emosi yang terbentuk akan sangat sulit menentukan batasan sampai mana mesti berhenti atau tetap lanjut dalam pengertian yang sangat bias dan berujung pada kontak fisik dan mental.

Pada akhirnya segala kemungkinan konsekuensi dari pertanyaan di atas berpulang kepada persepsi dan kesadaran kita masing-masing. Ini hanya pendapat pribadi berdasar pada apa yang terjadi dikehidupan sehari-hari. Diluar sana mungkin ada pertemanan yang dilandasi niat tulus yang murni tanpa ada pamrih. Namun apapun bentuknya, hakikat berteman adalah kasih-sayang selama itu juga jawaban dari pertanyaan bisakah pria dan wanita hanya sekedar berteman adalah tidak.

Advertisements