Made in Heaven

Made in Heaven

Dialog kedai kopi hari ini agak berbeda. Hampir disetiap perbincangan kerap terdengar kritikan, rasa tidak puas, frustasi, kecemburuan dan kekecewaan. Namun kali ini bincang kedai kopi sedikit mengingatkan begitu beruntungnya kita, bangsa Indonesia.

Dialog dibuka dengan celetukan seorang pengunjung kedai kopi yang secara spontan berkata “don’t You see, how lucky we are!” Rupanya ia baru saja melihat tayangan televisi yang kebetulan menampilkan peliputan sebuah pasar tradisional.

Kemudian ia menambahkan “Anda tau berapa harga satu ikat daun singkong di Australia dan bagaimana susahnya mencari kangkung cabut disana. Untuk makan makanan yang mirip sajian setiap hari seperti di warung padang disini; rendang, kari, ikan bakar, opor, gulai, bahkan lalap pete’ mereka harus rela menunggu paling tidak sebulan sekali untuk dapat menikmatinya. Atau makanan tersebut tidak cocok dengan selera mereka sehingga cukup sebulan sekali mencicipinya? — Keliru! Mereka suka, tapi untuk menyantapnya terlalu mahal!”

Kemudian ia melanjutkan ceritanya “mereka sangat menyukai masakan berbumbu, namun secara tradisi mereka hanya mengenal susu, bawang, keju dan mentega sebagai bahan dasar masakan. Kalaupun ada, mereka import dari kita. Bedakan dengan ratusan bahkan ribuan kombinasi macam bumbu dinegeri ini. Anda mungkin terkejut mengetahui berapa harga biji ketumbar per gramnya, berapa harga satu batang daun sereh, lembaran daun pohon salam, biji lada, pala, kunyit, jahe, cabe merah, bawang perai, mpon-mponan itu barang langka!”

“Dalam memasak makanan, mereka cuma mengenal anggur, cuka, saus tomat dan susu sebagai katalis. Kalau anda berpikir bule’ kebal rasa “eneg” anda keliru. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kari dimasak tanpa santan tapi diganti dengan susu. Bandingkan dengan katalis disini, kita punya puluhan macam jenis jeruk bumbu, puluhan spesies tomat, kelapa untuk santan, nira, taucho, dan banyak lagi, semuanya bisa dibeli murah tanpa menunggu sampai akhir bulan waktu gajian.”

“Kita mungkin pernah mendengar sajian makanan telur ikan trout, caviar, lezatnya daging ikan salmon yang harganya selangit — lupakan fantasi bagaimana rasa makanan yang disebut tadi. Jika anda pernah mencicipi daging ikan Bandeng, telur ikan Biawan. Jika masih kurang, ada ikan Nila, Pepuyu (most delicious taste I’ve ever had) dan Gurami, ikan-ikan ini jauh lebih lezat dengan harga tidak perlu sampai manjat ke langit.”

“Itu baru makanan, minuman lain lagi ceritanya. Sewaktu kuliah disana, saya sempat mendapat undangan ngopi bareng. Tuan rumah dengan bangganya menyuguhkan kopi murni yang digiling sendiri kemudian disangrai dengan kelapa parut goreng dan sedikit mentega. Undangan terbatas pada orang tertentu saja dan mereka menikmati kopi seperti tidak pernah meminum kopi tubruk seumur hidupnya. Ritual ini ditutup dengan menikmati sajian teh melati wangi dengan sedikit biskuit sebagai kudapan dan tentu saja “Rokok Kretek”. Mereka bilang ini surga! Pendek kata, pulang liburan ke Indonesia, saya memborong kopi tumbuk, teh melati dan rokok kretek sebanyak yang bisa saya bawa.”

“Indonesian cuisine, just look upon the stumble dish, you can read clearly “Made in Heaven”. Cheap and almost free! Seperti itulah ungkapan mereka tentang masakan Indonesia, seperti di surga.”

Saya hanya bisa menggumam lirih mendengar mereka bercerita, kemudian melempar pandangan ke arah gerai fastfood diseberang kedai kopi. Sebulan sekali beberapa orang dari kita menyisihkan uang untuk dapat mencicipi makanan yang mereka sebut “junkfood”, lupa kalau surga makanan hampir tiap hari kita cicipi.

Miss nasi pincuk soo much!

Advertisements