Bromo

Yang paling diminati para pengunjung Bromo adalah moment semburat merah cahaya pagi menyapu selimut kabut diantara bentang puncak kerucut dan kepundan pegunungan ini. Tak heran bila teman seperjalan saya ngotot untuk check out hotel pukul 12.00 tengah malam dan menyasar rute Malang – Bromo selama 3 jam lebih demi menyempatkan menengok moment sakral tersebut.

Dalam benak saya terlintas, tour ini berakhir saat membuka pintu mobil dan mendapati pemandangan pegunungan Bromo. Ternyata saya keliru, masih ada tambahan trip via jeep selama 1 jam plus macet dan sedikit hiking menanjak menyusuri lereng kaki pegunungan hingga ke spot viewpoint sisi timur untuk melihat sunrise. Mengapa mesti menggunakan kendaraan 4 wheels vehicle sejenis jeep? rute yang dilewati cendrung menanjak dengan sudut kemiringan lumayan curam, ditambah medan jalan berpasir gembur.

Sesampainya di viewpoint spot, ternyata jauh berbeda dengan bayangan saya selama ini. Yang benar saja, di pagi buta, di ketinggian 2.000 mdpl, di kaki gunung megah ini, suasananya lebih mirip pasar, penuh hiruk pikuk manusia! Semuanya punya tujuan yang sama, semburat merah Mentari di ufuk timur, di atas mega selimut kabut, di sela kerucut gunung dan hijau samar jejulang pepohonan.
image

Mungkin karena terlalu ramai, moment sakral tersebut tidak begitu menyita perhatian saya. Atau kebiasaan anti mainstream kumat sehingga perhatian beralih kepada objek yang jarang di eksploitasi, kabut. Awalnya sekedar iseng mencoba menangkap penampakan para penumpang kuda berlatar mini savana yang samar akibat kabut dan berakhir dengan beberapa tangkapan lewat kamera yang menurut saya tidak kalah menarik dengan pesona semburat merah Mentari pagi.  Atau mungkin saya lebih tertarik dengan kemuraman kabut dan membiarkan pesona buram tersebut memberi nuansa tersendiri yang menurut saya lebih cocok dengan kemegahan gunung ini.  Mungkin.

Advertisements