PKS – Petani Kopi Sejahtera

Penggunaan substansi kopi secara literal (arti yang sesungguhnya) di ranah politik tanah air jarang ditemui berbanding secara majas. Contohnya: obrolan seputar politik kerap menjadi stigma obrolan warung kopi walau kejadiannya di tempat lain. Entah kenapa akhirnya substansi kopi melekat sebatas majas dan bukan arti yang sesungguhnya.

Kemudian beberapa waktu lalu saya membaca sebuah tulisan di media sosial yang menyebut substansi kopi secara literal di ranah politik tanah air.

Saya juga tidak tahu, kenapa mendengar nama PKS seperti menyeruput secangkir kopi tanpa gula ? Pahit di lidah dan membuat mata terjaga waspada.

Denny Siregar

Bukan permasalahan politiknya yang membuat saya tertarik, namun penggunaan substansi kopi di ranah politik yang menjadi perhatian saya.

Drama politik merupakan media darling, sarana instan popularitas baik kepada objek maupun subjek penyertanya. Kemudian apakah substansi kopi menjadi lebih populer setelah dicatut namanya? Atau malah sebaliknya.

Seandainya penyertaan substansi kopi ikut mendongkrak popularitas, diiringi euforia seruput kopi agar melek politik, tentu para pegiat kopi termasuk industri hulu-hilir terutama petani kopi bisa lebih sejahtera. Bisa jadi majas hiperbola kutipan di atas: PKS laksana kopi pahit yang bikin melek akan berubah menjadi PKS – Petani Kopi Sejahtera.

Sayang realita sesungguhnya, kopi tanpa politikpun sudah populer. Petani, pegiat kopi dan seterusnya bakal tetap hidup tanpa harus berpolitik. Namun tidak disangkal bahwa berpolitik dapat membuat para pegiat kopi sejahtera. Dan akronim berikut tidak akan terkesan lucu saat dibaca: PKS – Petani Kopi Sejahtera.

Quote Denny Siregar bisa diakses di sini:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=201792186836400&id=100010168603095

Advertisements