Kopi Pinogu

image

Di sela-sela acara fun brewing komunitas kopi Samarinda di tepian sungai Karang Mumus tempo hari, saya dibisiki oleh om Yus: “Senin lusa ada tester kopi Liberica, om Timpa yang bawa. Kita coba seduh, penasaran bagaimana rasanya”. Om Yus juga menyebut nama Pinogu yang kemudian diketahui sebagai kopi blend antara Robusta dan Liberica.

Fun brewing ini acara ngopi, nyaris semua kopi geek sekota Tepian ngumpul di sini ngopi sambil ngobrol soal lingkungan. Kesempatan buat mencari tau dan bertanya soal kopi Liberica langsung dari ahlinya.

Kebetulan ada mas Kris dari Republikcoffee, si begawan kopi memberi sedikit info dari perspektifnya tentang kopi ini. Menurutnya Liberica kerap disebut kopi Nangka, cenderung fruity. Umumnya diroasting light sampai medium. Dengan alasan pengiritan, Liberica kerap dicampur Robusta sebagai bahan dasar kopi instant oleh industri skala besar.

Referensi lain menyebut Liberica memiliki ukuran biji kopi lebih besar dari ke dua saudaranya Robusta dan Arabika. Sedikit lebih ringan rasa asamnya dari Robusta dan jumlah varian rasa di bawah jenis Arabika. Kelebihannya tahan hama dan bisa tumbuh subur di ketinggian kurang dari 700 mdpl.

Untuk testing note saya mengutip Lisa Virgiano, seorang pemerhati kuliner Nusantara yang dimuat laman deGorontalo:

“Saya menemukan kopi Pinogu datang dengan medium high body dan kadar asam yang sedang, dengan aroma buah-buahan tropis dan jejak ujung rasa rempah (spicy) kering dan coklat,”

“Yang menarik ketika kopi diminum dalam keadaan turun temperaturnya, aroma kuat nangka keluar, hal ini tidak heran karena kopi Pinogu saya dengar merupakan persilangan dengan kopi liberica (kopi nangka),”

kopi Pinogu akan dapat ditonjolkan aroma dan dikurangi bodynya bila dilakukan manual brewing dengan V60, Chemex, atau Aeropress. Atau diminum dengan susu (kopi tubruk susu), krim kacang/coklat, atau perasan jeruk lemon dan soda.

Dengan bekal informasi ini, hal selanjutnya yang dilakukan adalah menunggu kopi yang dijanjikan datang.

Sesuai kesepakatan, Rumah Seduh Semenjana dipilih sebagai tempat untuk menjajal rasa kopi ini. Pilihan model seduh di sana lebih lengkap, mulai dari tubruk, kalita hingga chemex. Walau jadwal sempat mundur karena Senin mereka libur, akhirnya Selasa baru kesampaian.

Sesuai ekspektasi kopi Liberica yang ditunggu akhirnya mendarat di Semenjana. Melihat sortasi biji kopi yang tidak konsisten, ada yang kecil dan besar, bisa dipastikan ini kopi Pinogu yang disebut om Yus kemarin; campuran antara liberica dan Robusta. Diroasting medium dan sesuai rekomendasi tukang seduh untuk menggunakan metode chemex. Kebetulan om Timpa membawa sisa hasil brewing sebelumnya yang diseduh secara aeropress dan moka pot sebagai pembanding nantinya.

Cita rasa kopi Pinogu hasil seduhan malam itu bisa dibilang simpel, rasanya datar. Hal menarik dari kopi ini adalah aroma tepung trigu pada metode seduh moka pot. Sedangkan hasil seduh chemex menampilkan rasa masam dan kelat yang datar. Belum bisa dipastikan, rasa datar ini karena proses roasting yang gagal atau memang karakter kopi Pinogu yang sebenarnya.

Agak susah menarik kesimpulan mengenai hasil tester kopi Pinogu malam itu. Ekspektasinya kopi Liberica, ternyata kopi blend dengan Robusta. Cerita tentang cita-rasa kopi nangka yang fruity sepertinya mesti menunggu tester single origin Liberica yang sesungguhnya.

Yang menarik, catatan wikipedia tentang kopi Pinogu yang merupakan produk unggulan kecamatan Pinogu, kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Kopi ini dianggap sebagai kopi organik bebas dari penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya. Ditanam sejak era kolonial Belanda tahun 1875 dan menjadi kopi favorit Ratu Wilhelmina pada masanya. Selain itu, sebagai bentuk promosi, otoritas setempat menunjuk Dahlan Iskan (mantan menteri BUMN) sebagai duta kopi Pinogu.

Advertisements